Batik Nusantara Menduniakan Bercorak Amerika

Kain batik sudah dinobatkan sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia sejak Oktober 2009. Tidak menghentikan perjuangan dalam melestarikan budaya nenek moyang, ini justru membangkitkan semangat untuk mengembangkan batik hingga kemancanegara. Nilai-nilai dalam batik memang telah diterima banyak negara lain, melewati proses akulturasi budaya.

Kain batik yang berkembang di negara lain berbeda dengan batik yang sudah berkembang di Indonesia, dari segi desain maupun tekniknya. Tapi, hal ini tidak boleh menjadi tembok penghalang terhadap perkembangan batik kontemporer. Karena bagaimana pun, sebuah budaya harus dikawinkan dengan budaya lokal agar dapat diterima oleh masyarakat setempat.

Hal inilah yang mengakari American Batik Design Competition yang digelar oleh Kedutaan Besar Indonesia di Amerika. Dengan menggabungkan nilai-nilai budaya Amerika dan Indonesia, para peserta diwajibkan membuat desain batik yang nantinya akan diproses ke material kain oleh para perajin batik di Yogyakarta. “Kompetisi ini ditujukan untuk menduniakan batik, dan melahirkan corak batik sesuai American Style agar batik dapat menjadi konsumsi fashion di Amerika,” ujar Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika.

Dimulai April 2011, lebih dari 100 desain batik diterima. Namun, hanya sembilan desain yang dijadikan batik oleh para perajin di Indonesia. Mayoritas mereka adalah seniman yang telah mengetahui batik dan pernah mempelajari desain batik Indonesia sebelumnya. Adalah Elizabeth Urabe yang berhasil memenangi kompetisi ini dengan desain berjudul Divine unity. Desain batiknya yang terlihat kompleks dengan beragam pola dan warna menggambarkan antusiasme kebebasan serta kemerdekaan.

“Saya menyelesaikan desain batik ini dalam satu minggu. Desain ini menggambarkan kesatuan spirit yang ada, memiliki kemampuan untuk menyatukan moral humanity. Kami bisa bekerja sama untuk perdamaian dunia,” ujarnya. Meski telah berhasil membuat desain batik yang sangat indah, Urabe mengaku belum bisa membatik. “Saya tidak bisa membatik, tapi saya bisa membuat desain batik. Saya pikir semua orang punya tanggung jawab masing-masing,” tuturnya.

Urabe memenuhi syarat penilaian seperti originalitas, kreativitas, pantas atau tidaknya dibuat batik, mencerminkan budaya Indonesia, dan mengawinkan budaya Amerika dengan Indonesia. “Coraknya kompleks dan memiliki nilai spiritual yang tinggi,” ujar Dino. Tak hanya karya Urabe yang menarik perhatian. “Ada salah satu desain yang sulit untuk dibuat batik, karena kesakralan dari kain lawu. Jadi, saya dan suami memutuskan untuk mengadakan upacara sebelum membuat batiknya,” ujar Nia Fliam, salah satu juri ABDC.

Menurut Nia, batik memiliki misteri dalam setiap pembuatannya dan selalu membuat kejutan ketika batik selesai dibuat. “Batik tak hanya sekadar seni, tetapi juga sebuah pengabdian dan perjalanan spiritual. Batik adalah guru kehidupan,” katanya. Dilihat dari antusiasme warga Amerika mengikuti kompetisi ini, Dino Patti Djalal pun telah memasukkan kurikulum batik di sebuah sekolah dasar di daerah Chicago. (dwi29)

Gaya Urban Dengan Batik di Fashion Show Lina dan Lim H

2 Desainer muda Lina Surya Halim dan sang kakak, Nanang Halim yang lebih akrab disapa Lim menggelar peragaan busana perdana mereka di hotel Four Seasons. Dengan mengangkat tema ‘Adhikarya Dewangga’, duo kakak-beradik itu menampilkan gaya urban dengan sentuhan batik.

‘Adhikarya Dewangga’ berasal dari kata sansekerta yang berarti mahakarya dari kain yang indah. Berdasarkan tema itulah, Lina dan Lim H menampilkan koleksi pertamanya ke dalam desain bergaya urban dengan sentuhan kain batik yang indah.

Lewat koleksinya tersebut, mereka ingin menunjukkan karakter yang khas, dengan rancangan modern namun tetap mengangkat budaya Indonesia. Tidak hanya memamerkan balutan busana wanita yang cantik, Lina dan Lim juga merancang busana pada pria. Keduanya mencoba memamerkan busana untuk setiap kesempatan.

Dibuka dengan busana wanita santai, yakni atasan one shoulder batik dengan celana pendek. Lalu ada juga busana malam, yakni gaun cocktail berpotongan strapless dengan bahan sifon yang diberi sentuhan batik. Aksen draperi, juntaian kain dan detail renda serta manik juga menjadi pelengkap koleksinya.

Untuk koleksi wanita, show ditutup dengan busana pengantin. Ball gown warna hitam berdetail renda merah dengan aksen pita besar di bagian belakang terlihat feminin dan mewah. Busana prianya, menampilkan batik dalam rancangan casual. Berupa jas, kemeja lengan pendek dan semi-jaket. Pada koleksi pria ini, Lina dan Lim memainkan detail, aplikasi dan ornamen batik yang digabungkan dengan kain sarung, tenun dan lurik.

Rancangan lain, menampilkan batik sebagai sentuhan untuk melengkapi busana pria hitam putih yang bergaya lebih rapi. Sentuhan batik tersebut juga dijadikan sebagai aksesori pelengkap seperti dasi, ikat pinggang, bros dan tas santai ala traveller. (dwi24)

Indonesia Punya Batik Terbesar di Dunia

Sudah menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia sejak batik ditetapkan sebagai salah satu budaya bangsa oleh PBB lewat UNESCO. Bayangkan bila hamparan batik mengelilingi panggung berukuran 15×8 meter dan menjadikan sebuah karya unik dan menarik.

Kreasi pembuatan panggung dengan motif batik terbesar hadir di “Bidakara Wedding Expo 5”, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan belum lama ini. Adalah Fajar Adi dari Rumah kampung Dekor sebagai penciptanya. Awalnya, Fajar tak pernah memaksudkan kreasinya menjadi salah satu pemegang rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), tapi lebih karena kecintaannya kepada Indonesia, termasuk dengan budaya batik.
Read more

Ekspor Batik Terimbas Krisis Global

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengeluhkan ekspor batik nasional tahun ini tidak sebaik tahun lalu. Pasalnya, pasar utama ekspor batik yakni Eropa dan Amerika Serikat (AS) sedang diguncang krisis.

“Target ekspor pada tahun 2011 kemarin masih negatif karena Eropa dan AS masih bergejolak. Selain itu, Jepang yang juga jadi negara tujuan ekspor juga sedang memulihkan diri akibat tsunami pada tahun 2011 yang lalu,” jelas Mari di kantornya, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta.

Meski demikian, Mari tetap optimistis tahun ini ekspor batik kembali lebih menggeliat. Hal tersebut disebabkan, adanya diversifikasi produk. Dia menargetkan, rata-rata ekspor batik pada 2012-2015 akan tumbuh menjadi 10 persen, pada 2016-2020 tumbuh 15 persen, dan 2021-2025 tumbuh 20 persen.

Sementara itu, pertumbuhan produksi batik tahun ini ditargetkan mencapai angka 11,2 persen, sedangkan pertumbuhan 2012-2015 menjadi 15 persen, dan 2016-2020 naik 16,5 persen.

“Sedangkan pertumbuhan produksi 2021-2025 kami targetkan 18,5 persen, dan dibarengi dengan penyerapan tenaga kerja. Target ini sesuai dengan visi menjadikan batik sebagai penggerak ekonomi kerakyatan,” imbuhnya.

Sebagai salah satu sektor industri ekonomi kreatif, batik menyerap 916.783 tenaga kerja dan konsumen dalam negeri lebih dari 72,86 juta orang.

Permintaan batik sepanjang 2006-2010 yang silam naik hingga 56 persen. Selain itu, 99,39 persen dari 55.912 unit usaha di industri batik adalah usaha mikro dan kecil.

Data ekspor terakhir, pada tahun 2010 nilai ekspor batik telah mencapai  hingga USD69 juta antara lain ke Amerika, Belgia, dan Jepang. Sementara, produksi batik sendiri telah tercatat sekitar Rp3,9 triliun. (ivn59)

Potensi Bisnis Batik Tulis yang Menjanjikan

Produk berbasis budaya telah terbukti memiliki pasar tersendiri yang tak akan pernah mati. Potensi itulah yang digarap Susan Dewijanarko, pemilik usaha Lumbung Batik Purwanti, secara turun-temurun.

“Jika kita mau menghidupkan batik, kita juga akan dihidupi oleh batik,” ujar Susan belum lama ini.

Falsafah yang dianutnya itu menunjukkan betapa yakinnya Susan akan bisnis batik yang digelutinya, juga yang ditekuni entah berapa banyak pengusaha batik lainnya di Indonesia.

Diakui oleh dunia sebagai warisan budaya khas negeri ini, batik yang kaya akan nilai artistik tinggi dengan sendirinya memiliki potensi finansial yang besar. Berlokasi di Dusun Pundungrejo, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Batik Purwanti yang didirikan oleh ibunya pada 1968 bertahan sebagai lumbung uang keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Read more

Asty Ananta Punya Desainer Batik Sendiri

Artis dan presenter cantik Asty Ananta yang selalu terlihat riang dalam berbagai kesempatan. Sebab, ia selalu pintar menyesuaikan busana dengan tema acara yang akan diisinya. Rupanya, Asty begitu mengagumi “kecantikan” batik.

“Aku pribadi selalu menyesuaikan busana dengan tema acara tersebut. Dari dulu aku memang suka batik. Apalagi sekarang batik banyak modelnya, motifnya juga banyak. Jadi tidak hanya untuk acara khusus, acara formal, tapi untuk sehari-hari juga sering aku pakai,” katanya ditemui di Hotel Gren Melia, Jakarta.

saking cintanya pada batik, bintang sinetron “Cewek Komersil” ini gemar sekali berburu batik hingga kepelosok Pulau Jawa sekalipun. Beraneka ragam motif batik yang ditemukan, memacu Asty untuk pintar memadupadankan busana.

”Koleksi batikku ada yang dari Pekalongan, Solo, Madura. Batik sekarang lebih bervariasi, karena masing-masing daerah punya ciri khasnya masing-masing, baik dari motif maupun dari segi warnanya. Dan sekarang aku makin punya banyak ide untuk memadupadankannya. Bahkan waktu Read more

Ibu Ani Yudhoyono Kenang Ibundanya yang Cinta Batik

Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono mengenang masa-masa mudanya waktu dahulu ketika sang ibunda memberikan pakaian daster bernuansa batik untuk anak-anaknya.

Ibunda beliau pun sangat mencintai batik sejak dahulu, bahkan dari perangkat rumah tangga yang berbahan kain pun, seperti bed cover dan serbet semuanya bernuansa batik.

“Saat saya masih muda dahulu, ibunda saya memberikan kami selaku putri-putrinya daster bernuansa batik. Serbet hingga bed cover di rumah kami saat itu juga bernuansa batik,” ungkap Istri orang nomor satu di Indonesia itu, dalam sambutannya di acara The Batik Essays a Collection of Love Stories, di Alun-Alun Grand Indonesia Shopping Center.

Beliau juga mengenang saat beliau menikah secara serempak dengan kakak dan adiknya. “Saya memang menikah saat itu secara berbarengan entah karena alasan efisien atau apa saat itu,” ujarnya, dibarengi tawa ringan para hadirin sambil menyimak sambutan beliau. Read more

Kunci Batik Indonesia Tetap Bersinar di Pentas Dunia

Untuk membuat batik semakin mendunia, dukungan dari semua lapisan masyarakat sangatlah diharapkan. Tidak hanya personal semata, tapi meliputi dukungan dari seluruh rakyat Indonesia.

Pengukuhan Unesco pada 2009 terhadap batik sebagai warisan tradisi kesenian dan kebudayaan bangsa Indonesia telah menjadi pekerjaan rumah di pundak bangsa untuk tetap membesarkan dan melestarikan batik ke pentas dunia.

Pasalnya, pekerjaan rumah itu tak berhenti sampai di situ saja. Kesinambungan dari pengakuan yang telah disahkan secara internasional perlu diwujudkan agar label yang telah susah payah didapat tersebut tak ditarik kembali.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan yakni bersama-sama menyukai batik dan menjadikannya sebagai busana keseharian kita.

“Saya suka batik dan saya sering memakai batik,” ucap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka World Batik Summit di JCC, Jakarta.

Bapak Presiden mengatakan, bahwa batik bisa menjadi busana keseharian karena dari awal kita suka memakainya. “Kalau semua orang Indonesia dan masyarakat dunia suka membiasakan mengenakan batik didalam keseharian, maka masa depan batik di dunia akan cerah,” pungkasnya. (ivn55)

Batik Keraton Cirebon, Sejarah yang Hampir Punah

Ada sejarah panjang di balik batik yang bisa menguraikan tradisi bangsa Indonesia. Begitu juga dengan batik Keraton Kanoman Cirebon yang hampir punah ditelan waktu dan zaman.

Selama ini, batik Cirebon selalu dikaitkan dengan motif megamendung yang menjadi ciri khas batik dari kota pelabuhan tersebut. Padahal, sejarah batik Cirebon jauh lebih kaya ketimbang sekadar motif megamendung semata.

Sejarah itu pun dimulai sejak berabad lalu, seiring perkembangan masyarakat Cirebon. Daerah Trusmi, yang dikenal sebagai penghasil batik di Cirebon, juga ikut bertumbuh dalam perkembangan tersebut.

Dipercaya, batik Trusmi merupakan perluasan dari kebiasaan membatik di kalangan warga keraton. Pada waktu itu, kegiatan membatik hanya dilakukan di daerah keraton karena batik menjadi simbol status bagi keluarga sultan dan para bangsawan Cirebon.

Namun, akibat terjadi peperangan dan perpecahan kekuasaan pada masa itu, perajin batik keraton pun akhirnya dikembalikan ke daerahnya masing-masing. Salah satu daerah asal para perajin tersebut adalah Trusmi, di mana batik Cirebon terus berkembang sampai sekarang. Read more

Batik Indonesia Kaya Akan Motif & Warna

Batik memang sudah terlanjur dipatenkan sebagai milik negeri jiran Malaysia. Namun batik Indonesia tetap kaya akan motif, warna, dan selalu dikemas dengan filosofi yang tinggi dan berkualitas.

Begitulah pandangan serta pendapat  dari kenamaan desainer Ghea Panggabean dalam memposisikan batik Indonesia terhadap batik buatan Malaysia. Menurutnya, para desainer ataupun pengrajin batik di Indonesia tidak perlu takut dan menganggap hal itu sebagai ancaman karena pada dasarnya batik memang asli warisan budaya bangsa Indonesia.

“Saya mengerti dengan kondisi tersebut. Tapi kita tak perlu takut, karena batik Indonesia itu jauh lebih unggul secara kualitas dan kuantiatsnya,” tutur Ghea yang ditemui seusai menggelar pergelaran busana “Lintas Generasi Kartini Masa Kini”, di Grand Indonesia.

Desainer yang rutin menggelar pergelaran busana di Malaysia itu menuturkan, batik di Indonesia itu jumlahnya banyak dan tersebar di setiap daerah. Berbeda dengan Malaysia yang batiknya hanya satu pilihan, yaitu batik Malaysia.

“Saya pribadi tidak begitu mempermasalahkan hal demikan, pasalnya memang batik kita berbeda dengan negeri  tetangga tersebut. Paling yang menjadi perhatian kita adalah lebih kreatif menampilkan karya-karya apik. Karena tak dipungkiri di bidang fashion itu persaingannya begitu ketat,” jelas desainer yang sudah berkarya di bidang rancang busana selama 31 tahun ini.

Sang desainer menambahkan, dengan banyaknya orang yang memakai batik, maka secara tidak langsung Indonesia makin dikenal oleh dunia. “Saya bangga kalau tiba-tiba Armani pakai batik dalam koleksinya. Indonesia tentu saja akan makin dilirik oleh desainer-desainer top dunia,” tutupnya. (ivn53)

Demen Batik, Istri Uya Kuya Rela Belanja ke Pekalongan

Dalam setiap show, Surya Utama atau yang kita kenal dengan Uya Kuya memang jarang sekali berpakaian batik. Namun siapa sangka, Astrid istri dari penyanyi/presenter (Uya Kuya) ini ternyata begitu pecinta batik.

“Kalau show di depan pejabat, biasanya saya selalu menyediakan batik,” ungkap istri Uya, Astrid Khairunnisa, ditemui di Ritz Carlton, Jakarta).

Uya mengakui, dia memang jarang tampil dalam balutan batik. Biasanya, dia akan mengenai batik di acara resmi atau pergi ke undangan pernikahan saja. Read more

1001 Motif Batik Yogyakarta-Surakarta Mendunia

Meski telah menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) tak membuat Sodikin merasa bangga dan berpuas diri. Pemilik Batik Mangkoro, Yogyakarta, ini kembali termotivasi dengan mengenalkan batik ke mancanegara.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Sodikin, yaitu mencetak ulang batik 1001 motif dengan warna yang berbeda, tidak lagi hitam, putih, dan merah (batik 1001 yang memecahkan rekor Muri). Di mana Sodikin memperkenalkan 1001 motif batik klasik dari tradisi Yogyakarta dan Surakarta.
Read more

Sebagai Pewaris Batik, Indonesia Harus Lebih Peduli Lagi

Sebagai pemilik batik, bangsa Indonesia harus lebih peduli lagi terhadap warisan budayanya tersebut, tidak hanya batik yang kini sudah dikukuhkannya sebagai warisan pusaka dunia world heritage oleh UNESCO beberapa tahun yang lalu.

“Batik memang asli warisan budaya Indonesia, semua bahan-bahannya ada di seluruh Kepulauan Nusantara. Motifnya juga penuh dengan warna dan simbolis-simbolis budaya Hindu dan Jawa,” ungkap pakar batik dari Universitas Indonesia, Parwatri Wahyono saat berbincang dengan.

Menurutnya, kalau ada pihak yang mengklaim bahwa batik sebagai miliknya tentu saja pernyataan itu tidak benar adanya pasalnya batik adalah warisan asli budaya Indonesia. “Motif di batik memang berkaitan erat dengan budaya Indonesia,” imbuhnya.

Sebab itu, Bangsa Indonesia sebagai pemilik seni batik semestinya menghargai keberadaannya saat Read more

Batik Kontemporer Bergaya Abstrak

Kita memang sudah lama mengenal dengan batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, dan Garut. Bagaimana dengan batik Bandung? Dibanding para sepupunya yang bergaya klasik, batik Bandung justru tampil kontemporer dengan gaya abstrak yang dicipta lewat kata-kata puisi.

Pencipta Batik Bandung tersebut adalah Tetet Cahyati Popo Iskandar, putri dari mendiang seniman dan maestro lukis kenamaan RH Popo Iskandar. Darah seni dari sang ayah rupanya mengalir kental di nadi Tetet Cahyati. Tidak hanya berkutat di seni lukis saja, justru pencetus batik abstrak kontemporer ini merupakan seniman multimedia yang secara bertahap mencipta batik dari larik puisi yang kemudian diterjemahkan secara indah dan menawan ke dalam lukisan, lalu dicetak Read more

Annisa Trihapsari Kepincut Batik Banten

Batik Banten memang kurang terkenal di industri mode. Namun ternyata, saat ini batik Banten sedang giat dibudi dayakan. Tak heran, bila kini batik Banten memikat hati artis cantik Annisa Trihapsari.

Batik Banten yang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia memang patut untuk dilestarikan dan dikembangkan serta dijaga oleh para generasi penerus. Apalagi, keindahan corak batik selalu memberikan keunikan tersendiri bagi si pemakainya. Berangkat dari alasan itu, Annisa sangat terpesona dengan batik Banten.

“Batik Banten ternyata bagus sekali. Aku baru kali ini memakai batik Banten, biasanya aku menggunakan Batik Cirebon. Aku pikir, Indonesia hebat sekali. Karena ada banyak sekali pakaian Read more

Jerman Juga Pakai Batik

Batik yang khas asli dari Indonesia ternyata kini dimiliki pula oleh negeri lain, salah satunya negara Jerman yang kini tengah berkembang sangat pesat. Dengan demikian, seperti apa rupa gaun batik yang dimiliki oleh Jerman tersebut?

Seni budaya Indonesia terus mendunia dan batik menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang sangat dihargai dan dikenal oleh seluruh masyarakat didunia. Ketertarikan warga dunia seperti Eropa terhadap batik menarik minat mereka untuk mengenalnya lebih dalam lagi. Banyak negara lain yang juga tertarik untuk mendalaminya lebih lanjut, Jerman menjadi salah satu di antaranya. Dengan mengulik lebih dalam, Jerman pun kini sudah memiliki batik khas Eropa.

Joachim Blank, seniman batik asal Eropa melihat bahwa ada perbedaan yang mendasar dari batik Indonesia dan Jerman. Blank mengatakan, bahwa perbedaan batik Indonesia dengan Jerman terletak pada warna yang digunakan oleh keduanya. Dalam pandangannya, batik Eropa bersifat lebih kontemporer sementara batik Indonesia berani memadupadankan warna sehingga kelihatan lebih indah dan anggun.

“Batik Eropa lebih kontemporer dan kami lebih memiliki ide ‘liar’ dalam mengekspresikannya. Apa yang Read more

World Batik Summit Kokohkan Batik ke Pentas Dunia

Usai dikukuhkannya batik sebagai warisan tradisi kesenian dan kebudayaan bangsa secara internasional oleh UNESCO, pekerjaan rumah untuk terus mengusung batik di pentas dunia tidak terhenti hanya di sana. Karenanya, ajang World Batik Summit (WBS) pun digagas.

Batik yang dicintai oleh seluruh masyarakat Indonesia mungkin sudah tak lagi diragukan. Dukungan masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan kain adat tersebut semakin menggebu di lubuk hati warga Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dari kesadaran masyarakat yang menjadikan batik sebagai bagian dari keseharian. Bahkan setiap satu pekan, para pegawai BUMN mengenakan batik sebagai busana wajib kantor.

Dengan dukungan-dukungan tersebut, batik menjadi tuan rumah di negeri sendiri pun terwujud sudah. Meski begitu positifnya dukungan dari masyarakat, kita jangan dulu berlega hati. Pekerjaan rumah untuk mengharumkan batik agar mendunia menjadi tantangan selanjutnya yang perlu direalisasikan. Penyelenggaraan World Batik Summit menjadi sebuah langkah nyata untuk kian mengharumkan batik di pentas internasional.
Read more

Batik Bisa Hidup Seribu Tahun Lagi

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sangat optismistis kalau busana batik dapat bertahan hidup sampai seribu tahun lagi. Hal ini bisa dilakukan jika seluruh pemangku kebijakan mendukung terhadap keberlangsungan industri dan seni budaya batik.

“Batik akan hidup seribu tahun lagi, tapi tidak hanya cukup apresiasi, tetapi kita juga harus sering mengenakan dan mengajak orang lain untuk memakai batik,” kata Mari dalam sambutannya di hari puncak perayaan Hari Batik Nasional bertema “Batik, Seribu Tahun Lagi” di Lapangan Jetayu, Pekalongan.

Menurut Mari, batik menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat dan hampir satu juta orang yang bergerak di bidang industri batik itu sendiri.

“Jumlah usahanya mencapai sekitar 56 ribu yang sebagian besar adalah usaha mikro dan wanita,” lanjutnya.

Sejak lima tahun yang lalu, angka permintaan batik juga  meningkat 56 persen, khususnya pasar dalam negeri. Nilai usaha batik ini mencapai Rp2,9-Rp3,9 triliun (lima tahun) dengan nilai ekspor mencapai USD69 juta pada 2010. Read more

Pedagang Batik Harus Bersikap Jujur

Bagi Anda yang pecinta batik sebaiknya Anda harus berhati-hati dengan istilah batik. Sebablnya tidak semua kain bermotif batik bisa dinamakan dengan batik.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan bahwa kini  kain batik Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sejak lama  adalah yang berupa batik tulis, batik cap atau kombinasi antara keduanya.

Namun, dirinya mengingatkan bahwa selain itu, hanya disebutkan sebagai tekstil bercorak batik.

“Yang namanya batik itu adalah batik tulis, cap, dan kombinasi keduanya, sementara yang lain hanyalah tekstil bercorak batik saja,” ungkapnya saat peluncuran platform komunikasi online Indonesia Kreatif, di JCC, Senayan, Jakarta.

Untuk itu, dirinya meminta khususnya kepada seluruh para pedagang untuk bersikap jujur kepada konsumen terkait dengan kain yang dijualnya apakah batik sesungguhnya atau kah hanya kain bercorak batik semata-mata.

Hal ini tidak lain adalah untuk mengedukasi kepada seluruh masyarakat Indonesia serta agar tidak mengecewakan kepada seluruh  para pecinta batik. “Untuk itu saya mengimbau, pedagang harus jujur, bilang ini bukan batik, tapi kain bercorak batik,” jelasnya.

Sebagaimana telah diketahui bahwa setiap tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai hari batik nasional karena UNESCO akhirnya menerima batik sebagai warisan budaya asli Indonesia. (ivn42)

Batik Madura Terkontaminasi Oleh Batik Luar

Nama batik madura memang belum terkenal seperti batik dari Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Namun, peluang untuk lebih diminati oleh masyarakat internasional sangat besar terjadi mengingat batik madura mempunyai banyak keunggulan dalam pemilihan warna dan motif serta bahannya.

Sayangnya kini yang terjadi, batik madura kini sudah mulai terkontaminasi dengan batik dari daerah-daerah lain. Hal itu disampaikan secara langsung oleh Elisia dari International Design School Amerika saat dirinya melakukan kunjungan ke kios batik di pasar tradisional 17 kecamatan Kota Pamekasan.
Elisia mengaku sangat prihatin dengan keberadaan batik madura pada saat ini. Menurutnya, sekarang banyak batik yang di jual di kios alias tidak murni khas dari Madura.

“Banyak ditemukan campuran khas batik luar daerah, seperti campuran batik khas Solo,
Yogyakarta, Bali dan Mataram,” katanya, belum lama ini.

Elisia menilai, batik madura memang mempunyai banyak  peluang besar diminati oleh masyarakat luar, meski saat ini keunggulan batik madura masih di bawah 50 persen dibandingkan batik dari derah-daerah luar Madura, seperti Pekalongan, Yogyakarta, Bali, dan Mataram yang sudah 80 persen yang mempunyai keunggulan secara kualitas maupun kuantitsanya.

Daya tarik batik madura, kata Elisia, salah satunya terletak pada warna, motif, dan guratan batik. Oleh karenanya, dia berharap agar seluruh pembatik jangan sampai melupakan atau menanggalkan ciri khas batik madura sesungguhnya dan disesuaikan dengan corak kebudayaan asli Madura. (ivn41)