Ristya Stefanie Konsisten Kreasi Gaun Pengantin Batik

Ide untuk membuat gaun pengantin batik yang belum tercetus oleh desainer manapun membuat Ristya Stefanie secara konsisten menjadikan kreasi tersebut sebagai produk andalannya.

Desain batik dalam beragam busana telah menjadi sebuah hal lumrah. Saat ini berbagai model busana batik dari mulai anak-anak hingga orang dewasa tersedia dengan model yang cantik.

Namun di antara sederet busana tersebut, ada model unik yang belum tergarap banyak desainer. Adalah gaun pengantin batik yang mencirikan khas Indonesia itu menjadi pemikiran Ristya Stefanie, desainer muda dari Surabaya untuk mengolahnya lebih luas.

Konsep ini pun memang terbilang baru dan belum banyak dilirik desainer. Untuk itu, selain mengusung niat mempromosikan karya indah Indonesia, Ristya pun ingin agar kreasinya tersebut dapat menjadi sebuah terobosan baru yang dapat menjadi pilihan para pengantin, di mana selama ini gaun pengantin identik dengan bahan putih polos atau kebaya.

Dari sana, Ristya pun secara konsisten mengolah batik jadi gaun pengantin yang menawan dengan sentuhan desain tradisional maupun internasional. Ristya pun berani menyatakan sebagai salah satu pelopor desainer gaun pengantin batik karena menurutnya selama ini busana pengantin berbahan batik belumlah menjadi sebuah trend.

Batik merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia. Karena itulah, inspirasi memadukan batik dan gaun internasional akan menjadi sesuatu yang elegan, glamor, dengan tetap memunculkan nilai-nilai kebangsaan menjadi misinya. Karenanya, Ristya pun secara konsisten memertahankan kreasi tersebut hingga saat ini.

“Gaun pengantin batik merupakan karya andalan saya. Karya inilah yang ingin saya jadikan unggulan, yang membedakan saya dengan perancang busana lainnya. Karena kecintaan saya pada batik, maka saya ingin menjadikan batik menjadi sebuah karya yang bisa digunakan pada hari istimewa seseorang saat menjadi pengantin.

Selama ini, busana pengantin memang masih didominasi bahan kebaya. Saya ingin menampilkan sesuatu yang berbeda yaitu gaun pengantin elegan dan glamor yang menggunakan batik”. Dalam menjalankan roda usahanya, Ristya mengusung misi kerja keras dan tak lelah berinovasi dalam menelurkan karya-karyanya.

Hal itu dilakukannya sebagai bentuk penghargaan kepada para pelanggan setianya. “Saya ingin menjadikan setiap pelanggan spesial. Oleh karena itu, saya senantiasa membuat inovasi-inovasi dalam setiap rancangan agar pelanggan terlihat berbeda di hari istimewanya,” tutup Ristya. (dwi53)

Gaun Pengantin Berbahan Batik

Masyarakat pada umum, gaun pernikahan modern yang dikenal biasanya berwarna putih, berbentuk seperti ball gown (gaun mengembang), tidak memiliki motif, dan cenderung menggunakan manik-manik, bordir, atau payet di permukaannya. Konsep gaun pengantin yang seperti itu saja membuat perancang muda, Ristya Stefanie, ingin memunculkan sesuatu yang berbeda. Ia pun menciptakan gaun pernikahan yang bermotif batik.

Bukan kain batik yang digunakan sebagai bawahan atau sarung untuk paduan kebaya pernikahan yang ditawarkan Ristya, melainkan kain batik yang disulap menjadi gaun pengantin. “Kain batik itu milik Indonesia. Kenapa orang Indonesia tidak menggunakan batik di hari spesialnya?” kata Ristya. Karena konsepnya batik, Ristya pun tidak takut bermain warna. Dari tujuh gaun pernikahan batik yang diciptakannya, semua berwarna jauh dari putih, yaitu biru, hijau, marun, dan emas. “Ada satu gaun yang tetap putih, tapi bagian roknya disisipkan kain batik,” ujarnya.

Agar bentuk gaun pernikahan batik terlihat layaknya gaun modern, perempuan 25 tahun itu tidak menggunakan batik tulis dan kain katun. Yang dia pakai adalah batik cap di atas kain sutra atau satin. Kenapa menggunakan batik cap? “Kalau batik tulis, kainnya lebih kaku. Jadi bentuk gaun tidak bisa jatuh seperti gaun pernikahan modern,” ujarnya. Pada konsep gaun pengantin batik ini telah populer di masyarakat Surabaya dan Yogyakarta. Kini Ristya mencoba merambah pasar Jakarta.

Untuk sebuah gaun pengantin, Ristya menawarkan harga sewa sekitar Rp 10-30 juta jika memesan secara khusus. Meski berkonsep modern, gaun buatannya bisa dipadankan dengan konde Jawa yang menggunakan rias paes atau jilbab. “Gaun memang modern. Tapi karena batik, jadi bisa tetap tradisional,” katanya. Gaun pengantin batik pernah juga dibuat oleh Chenny Han.

Perancang senior yang sudah malang melintang di bidang busana pengantin ini pernah membuat gaun pengantin batik black and white bersama Josephine Komara alias Obin pada tahun 2010. “Batik memiliki potensi bagus untuk dipakai sebagai bahan dasar gaun pengantin. Hanya saja, orang Indonesia terbiasa menilai pernikahan sebagai sesuatu yang sakral,” kata Chenny. (dwi36)

Mengawinkan Batik Dengan Detail Modern Menjadi Gaun Pengantin Internasional

Batik tidak lagi sekadar menjadi jarik atau kemben yang identik dengan masyarakat tempo dulu (jadul) atau pedesaan. Wujudnya pun tak melulu helaian kain panjang tanpa jahit. Kain bermotif yang dilukis dengan malam panas itu telah menjadi bagian trend fashion. Euforia batik yang mewarnai industri fashion tanah air belakangan ini memancing beberapa desainer yang berkreasi.

Seperti Ristya Stefanie yang mengawinkan batik dengan detail modern menjadi sebuah gaun pengantin internasional. Ia tidak memadukan batik dengan kebaya, separti busana pernikahan adat. Mengusung konsep internasional, ia mengembangkan ide segar dengan menyatukan dua unsur kebudayaan dalam upacara sakral: batik dan bridal gown.

Gaun pengantin yang ditawarkannya memang sangat unik. Perpaduan antara cutting modern ala bridal dan batik sebagai material utama. Bridal gown yang biasanya bernuansa putih mendapat sentuhan corak batik yang sangat eye catching  Cocok untuk ratu semalam.  “Batik itu kan ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia, kenapa tidak kita pakai di hari bahagia kita. Tapi, tetap konsepnya internasional dengan desain ballgown.

Intinya, bagaimana agar batik digunakan dengan style internasional,” ujar desainer asal Surabaya ini. Mengusung desain busana pengantin internasional, perancang yang baru berusia 25 tahun ini tetap memasukkan aksesori-aksesoris tradisional dalam rancangannya. “Kami membuat banyak desain. Ada yang konsepnya sangat internasional bergaya Eropa, ada yang bisa dipakaikan paes, ada juga yang menggunakan dengan jilbab,” katanya.

Berbagai jeni motif batik yang digunakan. Mulai mega mendung, sekar jagat, motif khas pekalongan, hingga motif-motif kontemporer. “Tapi, ada juga motif batik yang tidak aku pakai seperti batik parang, karena tidak cocok digunakan untuk pernikahan. “Karena ingin mendapatkan cutting sempurna pada gaunnya, ia sengaja memilih batik printing dengan bahan satin sutra. “Kalau pakai batik tulis akan kaku jatuhnya, jadi aku pakai batik printing berbahan satin sutra supaya jatuhnya gaun akan lebih bagus.”

Meski batik menjadi material utama pembuatan gaun pengantinnya, ia juga melakukan kombinasi dengan menggunakan bahan-bahan polos seperti brokat dan tile, serta permainan payet agar gaun terkesan lebih mewah. Ristya mengawali kariernya sebagai desainer dengan menjadi perias pada usia 13 tahun. Lalu berkembang menjadi perias pengantin pada usia 19 tahun. Sejak tahun 2011, ia mengembangkan bisnisnya menjadi make up and wedding design dengan batik sebagai trademark-nya. (dwi28)