Neo Moderenitas Dari Sentuhan Tradisional

Tidak dapat dipungkiri kalau Indonesia memiliki kekayaan akan kain tradisional yang tak pernah habis untuk dieksplorasi. Tetapi, hal ini tak lantas membuat para desainer pasrah dengan kesan tua yang kerap ditampilkan kain-kain tradisional tersebut.

Di hari keempat Indonesia Fashion Week, Anda dapat merasakan perubahan atmosfir dari hari- hari sebelunya. Kali ini lebih kental dengan budaya tradisional yang lebih modern. Ke- 16 desainer yang tampil dalam satu panggung ini, mengemas karya mereka dalam tajuk “Ethnic Psychedelic”. 

Tenun tradisional

Sedangkan Wignyo Rahadi dengan tema ‘Swarnadwipa’ membawakan beragam kreasi tenun yang dirancangan dengan kesan feminin dan romantis. Teknik sulam benang putus, salur bintik, full bintik, dan motif dari tenun Siika, NTT, dan Papua membuat kain tenun ini tampil tidak biasa. Fomalhaut Zamel dan David adalah desainer lain yang juga mengandalkan tenun pada peragaan kali ini.

Beda lagi cerita dari Lia Mustafa yang terinspirasi dari anak-anak tuna netra. Melalui rancangannya yang bertema ‘Lumiere 2’ Ia menampilkan pakaian-pakaian yang colorfull yang berani menabrakkan warna dan juga motif sarung dan tenun yang digunakan sebagai material utama.

Neo batik

Dengan cutting yang sederhana, Afif Syakur dalam rancangan yang bertema Simply Versatile mencoba membawa desain cocktail dress batik untuk pakaian yang lebih kasual. Sedangkan Tedjo Laksono menghadirkan kombinasi batik dengan brokat. Elemen see trough dari bahan brokat menambah kesan romantis dan seksi pada keseluruhan penampilan.

Perkawinan dua budaya

Beberapa desainer tampak memadukan kain tradisional dengan sentuhan luar. Seperti Estrelita yang memodifikasi kebaya dengan bias etnik Spanyol. Atau  rancangan Poppy Dharsono yang terlihat elegan bergaya Eropa. Ia menyulap tenun menjadi jubah dan menambahkan aksen fur.

Permainan motif

Membawakan tema rancangan ‘Panen’, Agnes Budhisurya menampilkan beragam jenis pakaian termasuk jumpsuit, midi dan maxi dress. Selain ciri khas motif flora yang sudah melekat, ada keunikan dari rancangan Agnes, Ia menambahkan aksen-aksen juntaian padi dari payet di hampir setiap busana.

Payet ini juga digunakan Gregorius Vici untuk memberikan detil pada rancangannya. Jika Agnes dan Dana Rahardja menampilkan bunga, Handy Hartono lebih menonjolkan motif naga . Sedangkan Pinky Hendarto justru menggabungkan motif flora dan fauna untuk mewarnai busana- busananya.

Garis Modern

Ternyata, tak hanya batik dan tenun yang dapat diolah menjadi pakaian siap pakai. Ariani Pradjasaputra bahkan berani mengolah bahan tikar dan goni untuk dijadikan pakaian-pakaian yang sarat akan kesan playfull.  Tekstur tikar yang sedikit kaku memberikan siluet lebih konstruktif sebagai aksen pada bagian bahu.

Demikian juga dengan Melia Wijaya yang juga menonjolkan cutting unik sebagai aksen pada bahu, selain lipatan- lipatan geometris yang kuat. Tidak hanya busana struktural yang mengesankan moderenitas, Oki Wong menyuguhkan busana berbahan transparan untuk kesan seksi. (dwi06)

Di Tahun 2012 Tuty Cholid Sulap Baju Bodo Lebih Modern

Baju bodo biasanya khas dengan busana yang terkesan lebih formal. Namun di tangan Tuty Cholid, berbagai busana bermaterial sutra terlihat apik dalam potongan modern. Berbekal bahan sutra alam dari alam Indonesia, Tuty menampilkan busana tradisional yang terinspirasi dari baju bodo khas suku Bugis.

Baju bodo yang terkesan kaku dan longgar disulap Tuty menjadi rancangan segar dengan menonjolkan detail A-line, draperi, kerut, volume, dan layering yang menjadi sisi menarik dari busana yang ditampilkan. Sulawesi Selatan yang khas dengan kain tradisional, seperti tenun ikat, songket, dan tenun ATBM mengulik Tuty untuk mengolahnya agar lebih modern.

“Saya ingin menjadikan baju bodo dan sarung Makassar sebagai trend,” katanya saat konferensi pers “IPMI Trend Show 2012” di Assembly Hall, Plaza Bapindo, Jakarta. Kepiawaian Tuty mengolah kain adati pun tak diragukan lagi. Lewat tangan dinginnya, busana berpotongan coat, bolero, mini dress, midi dress, long dress, long skirt, celana pantalon dan blus pun tersaji dengan sangat indah.

Keindahan busana rancangan Tuty kian dipercantik lewat tawaran warna yang mencolok seperti shocking pink, oranye, hijau, tosca, biru tua, putih dan hitam ditampilkan Tuty sebagai prediksi warna yang akan menjadi trend 2012. Hasilnya, busana yang ditampilkan Tuty pun terasa sangat elegan, namun tetap “chic” bercita rasa modern. (dwi47)

Widi Vierra Demen Pakai Batik

Pentolan grup band Vierra, Widi Soediro Nichlany atau yang lebih akrab disapa Widi “Vierra” memang gemar berpakaian kasual yang menunjukkan sisi ABG-nya. Siapa sangka, di balik sikapnya yang cuek itu, Widi pencinta batik dan senang mengenakannya di berbagai kesempatan.

“Aku suka batik dari SD. Suka karena orangtua (ortu) aku sering pakai, ortu biasanya memakai batik buat jalan-jalan. Apalagi ibu, sering pakai kain batik tinggal dililit-lilit saja kan, aku juga suka. Tapi kalau bapak, cuma pakai celana batiknya saja,” ungkapnya.

Meskipun batik sering diidentikkan dengan kaum tua, namun Widi memakai batik dengan motif dan warna yang mampu menyajikan style busana anak muda yang modern dan modis.

“Batiknya enggak formal-formal gitu. Dengan pakai batik, kadang mama bilang aku kayak nenek-nenek, tapi aku enggak masalah dibilang seperti itu. Aku kalau keluar kota kadang beli baju batik selain suvenir-suvenir,” ujar vokalis “Vierra” tersebut.

Saking menggandrungi fesyen bermaterial kain tradisional itu, dara kelahiran 8 Mei 1990 ini tak Read more

Gaun Pengantin Ashanty Bakal Dikerjakan Empat Bulan

Ferry Sunarto mengatakan bahwa untuk merancang busana pengantin harus membutuhkan waktu paling cepat empat bulan. Rumus itu pula yang akan diberlakukan saat rekan duet sekaligus pasangan kekasih Anang Hermansyah dan Ashanty memintanya jadi desainer busana untuk acara akad dan resepsi nikah.

Desember tahun lalu, desainer Ferry Sunarto dipilih secara khusus oleh Anang Hermansyah dan Ashanty menjadi desainer gaun untuk pernikahan mereka. Busana yang dipesan rencana akan mereka pakai pada saat acara akad dan resepsi nikah.

Ferry yang menangkap keinginan Anang dan Ashanty lantas membuat desain busana yang akan membalut tubuh mereka. Persiapan pun mulai Ferry lakukan dengan mencari material bahan terpilih dan bahan pendukung lainnya untuk menciptakan busana pengantin yang menarik buat klien istimewanya tersebut.

Namun sebulan sudah berlalu, kepastian tanggal pernikahan Anang dan Ashanty tidak kunjung dideklarasikan. Ferry pun menjadi bertanya-tanya soal kepastian pernikahan mereka. Karenanya, dia pun membuat keputusan strategis untuk menyetop dulu proses desain gaun nikah pasangan ini.

“Sejak pertemuan pertama di butik bersama Anang dan Ashanty, saya langsung menyiapkan material bahan pilihan, detail, dan keperluan lain untuk busana. Tapi belum seratus persen karena masih ada beberapa bahan yang harus dibeli. Dan kain-kain tersebut memang belum saya olah karena harus menunggu kejelasan pernikahan Anang dan Ashanty,” tutur desainer asal Kota Bandung, Jawa Barat ini saat.

Busana tersebut, kata Ferry, akan segera dibuat ketika Anang dan Ashanty sudah memberitahu atau mengumumkan soal tanggal dan konsep pernikahan mereka. Hal ini menurutnya penting agar lebih mudah mewujudkan busana pengantin yang sesuai impian kedua pasangan tersebut.
Read more