Para Produsen Batik Meraup Untung Berlipat

Diakuinya batik sebagai produk lokal asli dari Indonesia oleh dunia melalui Unesco beberapa tahun yang lalu, membawa dampak positif bagi bisnis perdagangan batik lokal tersendiri.

Bahkan di beberapa tempat pengusaha atau galeri batik, tingkat permintaan atau penjualan berbagai jenis batik mencapai dua kali lipat atau 100% dari biasanya. Bahkan produksi pengrajin batik tidak mampu memenuhi permintaan konsumen saking banyaknya permintaan dari mereka.

Seperti yang diakui pengusaha batik tulis asal Sidoarjo, Ahmad Syaikhu. Pemilik usaha “Batik Barro” ini mengaku penjualan batik tulis di tempatnya meningkat 100%. “Permintaan yang biasanya 200-250 potong per bulan, sekarang bisa mencapai 400-500 potong per bulan,” ujarnya.

Namun menurutnya, animo konsumen masih tergantung kondisi atau musiman. Dengan naiknya volume penjualan, maka omzet yang didapat pun juga naik. Jika dirata-rata per potong bernilai Rp100 ribu, maka omzet yang diraih selama sebulan minimal mencapai Rp40-50 juta.

Selain Sidoarjo, pemesan batik yang diproduksinya berasal dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bogor, dan Surabaya. Bahkan Syaikhu mengatakan jika kapasitas produksi di tempat usahanya tidak mampu melayani tingginya permintaan pasar.

“Saya berencana meningkatkan kapasitas produksi dengan membangun lahan dan menambah perlengkapan membatik,” jelas pengusaha asal Kelurahan Magersari ini.

Saat ini menurutnya, kapasitas produksi di Batik Barro hanya mampu menghasilkan 60 potong per minggunya. “Selama ini batik dikerjakan pengrajin di rumah masing-masing. Ke depan akan saya buatkan bangunan sebagai tempat produksi dan menambah perlengkapan membatik sehingga produksi akan lebih meningkat,” paparnya.

Peningkatan penjualan juga diakui pengelola “Aya Galeri” Balgis N Muhyidin. Balgis yang membantu pemasaran batik tulis karya pengrajin lokal ini mengaku penjualan batik di galerinya meningkat selitar 30%.

“Peningkatannya sampai 30 persen. Omzet sebelumnya sekitar Rp30-40 juta, sekarang meningkat sampai Rp60-70 juta,” tandas pengelola galeri yang berada di Menanggal, Surabaya, ini.

Balgis mengaku dirinya selama ini sudah mampu menarik pembeli dari berbagai kota besar di Jawa dan luar Jawa, diantaranya kota Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan.

“Batik yang kami jual adalah batik tulis dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Tuban, Tulungagung, Banyuwangi, Sidoarjo dan lain-lain,” jelasnya.

Dia mengakui kebijakan di instansi pemerintahan dan swasta sangat menguntungkan pengusaha batik. “Sekarang banyak instansi yang mewajibkan pegawainya menggunakan batik pada hari-hari tertentu,” ucapnya.

Menurutnya, konsumen lebih suka memasarkan batik tulis daripada batik cetakan (printing) karena bagi mereka nilai karyanya lebih tinggi dan berkualitas. (ivn07)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *