Ekspor Batik Terimbas Krisis Global

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengeluhkan ekspor batik nasional tahun ini tidak sebaik tahun lalu. Pasalnya, pasar utama ekspor batik yakni Eropa dan Amerika Serikat (AS) sedang diguncang krisis.

“Target ekspor pada tahun 2011 kemarin masih negatif karena Eropa dan AS masih bergejolak. Selain itu, Jepang yang juga jadi negara tujuan ekspor juga sedang memulihkan diri akibat tsunami pada tahun 2011 yang lalu,” jelas Mari di kantornya, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta.

Meski demikian, Mari tetap optimistis tahun ini ekspor batik kembali lebih menggeliat. Hal tersebut disebabkan, adanya diversifikasi produk. Dia menargetkan, rata-rata ekspor batik pada 2012-2015 akan tumbuh menjadi 10 persen, pada 2016-2020 tumbuh 15 persen, dan 2021-2025 tumbuh 20 persen.

Sementara itu, pertumbuhan produksi batik tahun ini ditargetkan mencapai angka 11,2 persen, sedangkan pertumbuhan 2012-2015 menjadi 15 persen, dan 2016-2020 naik 16,5 persen.

“Sedangkan pertumbuhan produksi 2021-2025 kami targetkan 18,5 persen, dan dibarengi dengan penyerapan tenaga kerja. Target ini sesuai dengan visi menjadikan batik sebagai penggerak ekonomi kerakyatan,” imbuhnya.

Sebagai salah satu sektor industri ekonomi kreatif, batik menyerap 916.783 tenaga kerja dan konsumen dalam negeri lebih dari 72,86 juta orang.

Permintaan batik sepanjang 2006-2010 yang silam naik hingga 56 persen. Selain itu, 99,39 persen dari 55.912 unit usaha di industri batik adalah usaha mikro dan kecil.

Data ekspor terakhir, pada tahun 2010 nilai ekspor batik telah mencapai  hingga USD69 juta antara lain ke Amerika, Belgia, dan Jepang. Sementara, produksi batik sendiri telah tercatat sekitar Rp3,9 triliun. (ivn59)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *