Batik Keraton Cirebon, Sejarah yang Hampir Punah

Ada sejarah panjang di balik batik yang bisa menguraikan tradisi bangsa Indonesia. Begitu juga dengan batik Keraton Kanoman Cirebon yang hampir punah ditelan waktu dan zaman.

Selama ini, batik Cirebon selalu dikaitkan dengan motif megamendung yang menjadi ciri khas batik dari kota pelabuhan tersebut. Padahal, sejarah batik Cirebon jauh lebih kaya ketimbang sekadar motif megamendung semata.

Sejarah itu pun dimulai sejak berabad lalu, seiring perkembangan masyarakat Cirebon. Daerah Trusmi, yang dikenal sebagai penghasil batik di Cirebon, juga ikut bertumbuh dalam perkembangan tersebut.

Dipercaya, batik Trusmi merupakan perluasan dari kebiasaan membatik di kalangan warga keraton. Pada waktu itu, kegiatan membatik hanya dilakukan di daerah keraton karena batik menjadi simbol status bagi keluarga sultan dan para bangsawan Cirebon.

Namun, akibat terjadi peperangan dan perpecahan kekuasaan pada masa itu, perajin batik keraton pun akhirnya dikembalikan ke daerahnya masing-masing. Salah satu daerah asal para perajin tersebut adalah Trusmi, di mana batik Cirebon terus berkembang sampai sekarang.

Wilayah Cirebon yang merupakan pelabuhan besar pun menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan batik.

Adanya akulturasi kepercayaan, seni, dan budaya yang dibawa serta para pedagang masa lampau memberi warna baru yang kemudian melahirkan konsep batik pesisiran. Suntikan pengaruh Oriental dari saudagar asal China pun tak kalah menambah semarak batik Cirebon.

Mencipta motif baru, layaknya binatang khayal, kirin maupun naga, serta penggunaan kombinasi warna yang cenderung lebih cerah.

Adapun motif batik keraton sendiri pun tidak terlepas dari pengaruh akulturasi budaya tersebut. Hal itu terlihat di beberapa koleksi batik keraton yang memiliki sentuhan Oriental, baik dalam hal pewarnaan maupun ragam hiasnya.

Namun, kemajuan zaman dan industri membuat batik status simbol para bangsawan ini tersingkir dengan sendirinya. Akibatnya, pamor batik Keraton Cirebon pun mulai memudar, bahkan bisa dikatakan tergilas oleh waktu dan zaman. (ivn54)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *