Batik Bisa Hidup Seribu Tahun Lagi

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sangat optismistis kalau busana batik dapat bertahan hidup sampai seribu tahun lagi. Hal ini bisa dilakukan jika seluruh pemangku kebijakan mendukung terhadap keberlangsungan industri dan seni budaya batik.

“Batik akan hidup seribu tahun lagi, tapi tidak hanya cukup apresiasi, tetapi kita juga harus sering mengenakan dan mengajak orang lain untuk memakai batik,” kata Mari dalam sambutannya di hari puncak perayaan Hari Batik Nasional bertema “Batik, Seribu Tahun Lagi” di Lapangan Jetayu, Pekalongan.

Menurut Mari, batik menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat dan hampir satu juta orang yang bergerak di bidang industri batik itu sendiri.

“Jumlah usahanya mencapai sekitar 56 ribu yang sebagian besar adalah usaha mikro dan wanita,” lanjutnya.

Sejak lima tahun yang lalu, angka permintaan batik juga  meningkat 56 persen, khususnya pasar dalam negeri. Nilai usaha batik ini mencapai Rp2,9-Rp3,9 triliun (lima tahun) dengan nilai ekspor mencapai USD69 juta pada 2010.

Penggunaan batik, katanya, harus terus didorong karena batik memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi untuk terus dikampanyekan dan dipromosikan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

“Kita kembangkan hulu dan hilir agar industri batik lebih maju dan lebih berkembang lagi, dan nantinya batik sebagai tradisi yang hidup dan batik yang ramah lingkungan,” tambah Mendag.

Mari juga mengingatkan bahwa pengakuan batik oleh UNESCO sebagai “Intangible Cultural Heritage” pada 2009 lalu, merupakan sebuah bentuk pengakuan yang strategis terhadap eksistensi batik dan nilai pentingnya bagi peradaban dan perkembangan kebudayaan warga negara Indonesia. Penghargaan ini harus diteruskan dengan langkah kongkret untuk membuat batik sebagai suatu budaya yang hidup sampai seribu tahun lagi. (ivn44)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *